Rasulullah SAW bersabda: ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil di antara anak-anakmu.’
(HR. Bukhari & Muslim)”
Kasus tentang dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap perempuan berinisial YTR yang menjerat Taufik Hidayat terus memunculkan berbagai fakta baru yang memukul ulu hati kita sebagai orang tua. Bayangkan, seorang anak yang disebut ayahnya sebagai ‘anak kesayangan’ karena ‘paling ganteng’, justru berakhir menjadi pelaku kekerasan yang sangat keji. Nyesek rasanya melihat kenyataan ini.
Kita sering berpikir bahwa memberikan segalanya, memuji setinggi langit, dan memanjakan tanpa batas adalah bentuk kasih sayang tertinggi. Namun, kasus ini menjadi tamparan keras bahwa tanpa pondasi adab dan batasan yang jelas, kasih sayang kita justru bisa menjadi racun yang mematikan karakter anak.
Memang, setiap orang tua pasti punya kecenderungan hati, tapi ketika itu ditunjukkan secara terang-terangan karena alasan fisik semata, kita sedang menanam benih kesombongan sekaligus luka di hati anak-anak kita yang lain.
Mendidik anak itu seperti membangun pondasi rumah; kalau hanya fokus pada cat yang indah tapi strukturnya rapuh, rumah itu pasti akan roboh saat badai datang. Begitu juga dengan anak kita.
Ketampanan atau kecerdasan hanyalah ‘cat’, sementara adab dan iman adalah ‘beton’ yang menjaganya tetap tegak sebagai manusia sejati.
Tragedi Taufik Hidayat: Ketika Pujian Fisik Menjadi Bumerang
Jujur saja, pernyataan ayah Taufik yang menyebut putranya istimewa hanya karena wajahnya yang rupawan adalah sebuah kesalahan fatal dalam pola asuh. Dalam psikologi perkembangan, memberikan label ‘spesial’ pada anak berdasarkan hal-hal yang tidak bisa mereka usahakan (seperti wajah atau bakat alami) tanpa menekankan usaha dan karakter, akan menciptakan ‘Entitlement Syndrome’.
Anak merasa dia berhak mendapatkan apa saja, boleh melakukan apa saja, dan tidak perlu menghargai orang lain karena dia merasa dirinya ‘lebih’ dari yang lain. Inilah yang kita lihat pada Taufik. Dari anak yang dimanja, ia berubah menjadi sosok yang merasa punya kuasa penuh atas hidup orang lain, bahkan sampai tega melakukan penyiksaan.
Mengapa “Anak Kesayangan” Bisa Berubah Menjadi “Monster”?
Ayah Bunda, mari kita bicara dari hati ke hati. Mengapa anak yang paling kita manja seringkali justru menjadi yang paling sulit diatur atau bahkan paling menyakiti hati kita? Jawabannya ada pada hilangnya ‘rasa tanggung jawab’ dan ‘empati’.
Saat semua keinginan anak dituruti tanpa ada kata ‘tidak’, anak tidak pernah belajar mengelola kekecewaan. Akibatnya, saat dia dewasa dan dunia tidak berjalan sesuai kemauannya, dia akan meledak. Dia akan menggunakan segala cara, termasuk kekerasan, untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Inilah yang disebut sebagai ‘salah asuhan’. Kita tidak sedang membesarkan manusia, tapi sedang membesarkan ‘raja kecil’ yang suatu saat akan menindas orang di sekitarnya.
Baca juga: Krisis Pendidikan Anak Muslim: Kenapa 18 Tahun Sekolah Tidak Cukup Tanpa Adab?
Bahaya Pilih Kasih: Luka yang Tak Terlihat tapi Mematikan
Memberikan label ‘anak kesayangan’ secara terbuka bukan hanya merusak si anak emas, tapi juga menghancurkan mental saudara-saudaranya yang lain. Dalam Islam, Rasulullah SAW sangat tegas memerintahkan kita untuk berlaku adil kepada anak-anak kita. Ketidakadilan orang tua adalah sumber permusuhan antar saudara yang bisa terbawa sampai mati.
Anak yang tidak diistimewakan akan merasa rendah diri atau menyimpan dendam, sementara si anak emas akan tumbuh menjadi pribadi yang narsistik. Kita harus sadar, cinta itu boleh tak sama di dalam hati, tapi perlakuan harus mutlak adil.
Menanamkan Adab Sebelum Ilmu: Pondasi yang Tak Boleh Ditawar
Kita seringkali terlalu sibuk memastikan anak kita juara kelas, jago bahasa asing, atau punya penampilan yang keren. Tapi kita lupa satu hal yang paling krusial: Adab.
Tanpa adab, ilmu hanya akan membuat seseorang menjadi penjahat yang pintar. Tanpa adab, ketampanan hanya akan menjadi topeng bagi jiwa yang busuk. Di sinilah pentingnya kita kembali ke akar pendidikan Islam. Pendidikan yang tidak hanya menyentuh otak, tapi juga menyentuh ruh.
FAQ – Tanya Jawab Seputar Karakter Anak
Biasanya anak sulit menerima kata ‘tidak’, sering tantrum jika keinginannya tidak dituruti segera, dan tidak memiliki empati terhadap kesulitan orang lain atau orang tuanya.
Tidak ada kata terlambat. Mulailah dengan menerapkan aturan yang konsisten, berikan tanggung jawab di rumah, dan jangan takut melihat anak merasa kecewa karena itu bagian dari proses belajar hidup.
Agama memberikan batasan moral yang jelas antara yang hak dan yang bathil. Al-Qur’an adalah manual kehidupan yang mengajarkan bagaimana manusia seharusnya bersikap.
Boleh, tapi jangan dijadikan standar utama. Pujilah usahanya, kejujurannya, dan kebaikannya lebih sering daripada pujian terhadap wajah atau pakaiannya.
Tips Praktis untuk Kita Hari Ini
- Mulailah berkata ‘Tidak’ pada permintaan anak yang tidak perlu, meski kita mampu membelinya. Ini melatih otot kesabaran mereka.
- Berikan tugas rumah tangga harian (seperti mencuci piring sendiri atau merapikan tempat tidur) untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab.
- Berhenti membanding-bandingkan anak atau memberikan label ‘anak emas’. Perlakukan setiap anak dengan keadilan yang nyata dalam perhatian dan pemberian.
- Luangkan waktu 15 menit setiap malam untuk mendengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, bangun koneksi sebelum memberikan koreksi.
- Daftarkan anak ke program bimbingan agama yang fokus pada adab seperti di Kaffah Priority agar mereka memiliki lingkungan belajar yang positif dan terarah.
“Anak adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Jangan sampai rasa cinta yang salah jalan justru menjerumuskan mereka ke dalam kehancuran dunia dan akhirat.”
hikmah
