Bismillah. Bagi banyak keluarga, Jumat hanyalah hari terakhir kerja sebelum akhir pekan. Padahal Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai hari terbaik yang disinari matahari. Dan ada satu pelajaran yang jarang dibahas: Al-Qur’an juga mengatur bagaimana kita kembali mencari rezeki setelah shalat Jumat.
Ayah-Bunda yang bekerja keras sambil menjaga ibadah anak pasti paham tarik-menariknya. Waktu terasa sempit, urusan menumpuk, lalu anak bertanya, “Kenapa hari Jumat itu spesial?” Pertanyaan polos itu wajar, dan jawabannya bisa menjadi pintu untuk menanamkan adab sejak dini.
Di artikel ini, kamu akan menemukan keutamaan hari Jumat berdasarkan hadits shahih, penjelasan QS. Al-Jumu’ah ayat 10 tentang mencari rezeki setelah shalat Jumat, dan 5 cara praktis mengenalkannya pada anak usia 5–12 tahun.
📌 Ringkasan Singkat
Hari Jumat adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari (HR. Muslim no. 854). Setelah shalat Jumat selesai, Allah mempersilakan kita bertebaran di bumi mencari karunia-Nya, sambil memperbanyak dzikir (QS. Al-Jumu’ah: 10). Orang tua bisa mengajarkan keduanya pada anak lewat cerita sederhana, kebiasaan keluarga, dan keteladanan dalam bekerja secara jujur.
Mengapa Hari Jumat Disebut Hari Terbaik dalam Islam?
Hari Jumat adalah hari yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai sebaik-baik hari ketika matahari terbit. Keistimewaannya disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا
“Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim no. 854)
Dalam riwayat lain dari Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Jumat termasuk hari yang paling utama. Pada hari itu Adam diciptakan dan wafat, dan pada hari itu pula ditiupnya sangkakala. Hadits ini diriwayatkan Abu Daud no. 1047, An-Nasa’i no. 1374, Ibnu Majah no. 1085, dan Ahmad (4/8), serta dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.
Apa Pelajaran dari Hadits Ini?
Para penyaring faedah hadits, sebagaimana dirangkum Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Rumaysho.com, menyebut tiga poin penting:
- Hadits ini menunjukkan keutamaan hari Jumat.
- Jumat adalah hari agung tempat terjadinya peristiwa-peristiwa besar, termasuk penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam.
- Seorang hamba dianjurkan menghias hari Jumat dengan amal saleh agar meraih rahmat Allah dan keberuntungan.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menghimpun adab-adab Jumat dalam satu bab. Isinya antara lain kewajiban shalat Jumat, mandi, memakai wewangian, bersegera datang ke masjid, memperbanyak doa dan shalawat, waktu mustajab, serta memperbanyak dzikir setelah shalat Jumat.
Mencari Rezeki Setelah Shalat Jumat: Apa Kata Al-Qur’an?
Mencari rezeki setelah shalat Jumat adalah hal yang dibuka oleh Allah dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10. Setelah ibadah selesai, kita tidak diminta berhenti bekerja. Kita diminta kembali beraktivitas dengan hati yang tetap terhubung kepada-Nya.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
Apa Maksud Ayat Ini Menurut Ulama?
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ketika azan Jumat berkumandang, jual beli dilarang dan kaum Muslimin diperintahkan berkumpul untuk shalat. Begitu shalat selesai, mereka diperbolehkan menyebar ke muka bumi untuk mencari karunia Allah.
Gambaran ini menarik untuk dijelaskan pada anak: ada waktu untuk berhenti dan fokus pada Allah, lalu ada waktu untuk bekerja dan berusaha. Keduanya bukan lawan, melainkan saling melengkapi.
Mengapa Allah Menyebut Dzikir Tepat Setelah Perintah Mencari Rezeki?
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa berdagang dan bekerja sangat mungkin membuat seseorang lalai dari dzikir. Karena itu Allah mengingatkan agar kita banyak berdzikir, sebab dzikir adalah sebab datangnya keberuntungan.
Menurut beliau, dzikir tidak terbatas pada lafaz. Dzikir mencakup setiap perbuatan yang dilakukan untuk mengharap pahala dari Allah, termasuk bermuamalah dengan baik: tidak curang, tidak menempuh transaksi yang haram, dan memberi kemudahan dalam jual beli demi meraih ridha-Nya. Bagi As-Sa’di, perilaku seperti itu termasuk ihsan.
Pesan ini sangat relevan untuk orang tua. Rezeki bukan hanya soal berapa banyak yang kita dapat, tetapi bagaimana cara kita mencarinya.
Doa Sahabat ‘Arak bin Malik Setelah Shalat Jumat
Dinukil dari sahabat ‘Arak bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa setelah selesai shalat Jumat beliau berhenti di pintu masjid lalu berdoa (riwayat Ibnu Abi Hatim):
اللَّهُمَّ إِنِّي أَجَبْتُ دَعْوَتَكَ، وَصَلَّيْتُ فَرِيضَتَكَ، وَانْتَشَرْتُ كَمَا أَمَرْتَنِي، فَارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ، وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Allahumma inni ajabtu da’wataka, wa shallaitu faridhataka, wantasyartu kama amartani, farzuqni min fadhlika, wa anta khairur raziqin.
“Ya Allah, aku telah memenuhi panggilan-Mu, melaksanakan shalat wajib untuk-Mu, dan menyebar di bumi sebagaimana Engkau perintahkan. Berilah aku rezeki dari karunia-Mu, Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Catatan: doa ini adalah amalan seorang sahabat. Maknanya sangat indah dan mudah dihafal anak, tetapi sampaikan kepada anak bahwa ini doa yang dicontohkan sahabat.
Pelajaran Parenting: Rezeki Itu Ikhtiar, Dzikir, dan Adab
Anak belajar tentang rezeki dari cara orang tuanya bekerja, bukan dari ceramah panjang. Dari QS. Al-Jumu’ah ayat 10 dan penjelasan As-Sa’di, ada tiga pesan yang bisa kita tanamkan:
- Ikhtiar: kita diperintahkan bertebaran dan mencari karunia Allah, bukan menunggu.
- Dzikir: usaha yang kuat tetap perlu hati yang ingat Allah.
- Adab bermuamalah: jujur, tidak curang, dan memudahkan orang lain.
Bayangkan ilustrasi sederhana ini. Seorang ayah pulang dari masjid bersama putranya, lalu berkata, “Tadi kita sudah memenuhi panggilan Allah. Sekarang Ayah lanjut kerja, tapi tetap jujur dan ingat Allah ya.” Kalimat sepuluh detik seperti itu bisa lebih membekas daripada satu jam nasihat.
Inilah alasan adab sebaiknya ditanamkan lebih dulu, sebelum hafalan dan bacaan. Anak yang paham mengapa ia beribadah dan bekerja dengan jujur akan membawa nilai itu seumur hidup.
5 Cara Mengenalkan Keutamaan Hari Jumat kepada Anak Usia 5–12 Tahun
Sebelum masuk ke cara-caranya, ingat satu catatan penting. Shalat Jumat diwajibkan bagi laki-laki Muslim yang sudah baligh dan mukim. Anak yang belum baligh tidak diwajibkan, tetapi bisa dikenalkan dan dilatih sejak dini. Bunda dan anak perempuan tetap bisa menghidupkan Jumat dengan amalan-amalan di rumah.
- Ceritakan kisah Nabi Adam di hari Jumat. Gunakan bahasa sederhana: “Jumat itu hari spesial karena di hari ini Nabi Adam diciptakan.” Cerita pendek lebih mudah diingat daripada penjelasan panjang.
- Ajak bersiap, bukan memaksa. Libatkan anak memilih baju rapi dan bersiap lebih awal. Bagi anak laki-laki, ajak berjalan bersama Ayah ke masjid. Ingat, adab-adab Jumat seperti mandi, wewangian, dan bersegera adalah bagian dari tuntunan yang dihimpun dalam Riyadhus Shalihin.
- Hafalkan doa setelah Jumat bersama-sama. Doa ‘Arak bin Malik di atas pendek dan maknanya langsung menyentuh. Ajak anak mengulang satu baris per hari sampai hafal.
- Kaitkan Jumat dengan cerita kerja Ayah-Bunda. Jelaskan bahwa rezeki dicari dengan jujur dan tetap dibarengi dzikir. Tunjukkan lewat contoh kecil, misalnya mengembalikan uang kembalian yang berlebih.
- Buat “evaluasi Jumat” keluarga. Setiap Jumat, tanyakan satu hal: “Adab apa yang paling kamu latih pekan ini?” Tidak perlu panjang. Konsistensi lebih penting daripada kemeriahan.
Jangan jadikan Jumat sebagai momen menakut-nakuti anak. Hadits menyebut peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di hari Jumat, tetapi untuk anak, fokuskan pada keistimewaan, kebahagiaan, dan semangat berbuat baik.
Bagaimana Kaffah Priority Membantu Orang Tua Menanamkan Nilai Ini?
Kaffah Priority adalah platform bimbingan privat Al-Qur’an dan adab online untuk anak usia 5–12 tahun. Kelas berlangsung dari rumah, dengan mentor tersertifikasi, jadwal fleksibel, dan e-raport bulanan agar orang tua bisa memantau progres anak. Kaffah Priority melayani keluarga Muslim di lebih dari 50 negara dengan 7 bahasa pengantar.
Bagi keluarga yang suasana Jumatnya tidak seramai di tanah air, termasuk diaspora Muslim, pendampingan seperti ini membantu menjaga kedekatan anak dengan ibadah dan adab. Pendekatannya memakai metode MADINAH: asyik pembelajarannya, happy anaknya. Kurikulumnya mengutamakan adab sebelum hafalan, sehingga nilai seperti jujur, sabar, dan ingat Allah ikut tumbuh bersama bacaan Al-Qur’an.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
Apa saja keutamaan hari Jumat dalam Islam?
Rasulullah ﷺ menyebut Jumat sebagai sebaik-baik hari yang disinari matahari (HR. Muslim no. 854). Pada hari itu Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan darinya. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan menghias hari Jumat dengan amal saleh.
Bolehkah bekerja atau berdagang setelah shalat Jumat?
Boleh. Dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10, Allah mempersilakan kaum Muslimin bertebaran di bumi dan mencari karunia-Nya setelah shalat selesai. Menurut Ibnu Katsir, jual beli dilarang ketika azan Jumat berkumandang. Setelah shalat, bekerja dibolehkan dengan tetap memperbanyak dzikir.
Apa doa setelah shalat Jumat untuk memohon rezeki?
Salah satu doa yang dinukil dari sahabat ‘Arak bin Malik adalah “Allahumma inni ajabtu da’wataka… wa anta khairur raziqin.” Artinya, memohon rezeki dari karunia Allah setelah memenuhi panggilan-Nya dan menyebar di bumi. Doa ini dinukil sebagai amalan sahabat.
Mengapa kita diperintahkan banyak berdzikir setelah shalat Jumat?
Menurut Syaikh As-Sa’di, berdagang dan bekerja mudah membuat seseorang lalai dari dzikir, sehingga Allah mengingatkan agar kita banyak berdzikir. Dzikir juga mencakup muamalah yang baik: jujur, tidak curang, dan memudahkan transaksi dengan niat meraih ridha Allah, sehingga aktivitas bekerja pun bernilai ibadah.
Bagaimana cara mengenalkan keutamaan hari Jumat pada anak usia 5–12 tahun?
Mulailah dari cerita sederhana bahwa Jumat adalah hari terbaik dan hari diciptakannya Nabi Adam. Lalu bangun kebiasaan kecil yang konsisten: bersiap rapi, ikut Ayah ke masjid bagi anak laki-laki, membaca doa bersama, dan mengaji. Anak lebih mudah meniru kebiasaan keluarga daripada menghafal penjelasan.
Kesimpulan
Hari Jumat adalah hari terbaik yang disinari matahari, dan Al-Qur’an memberi kita pola yang seimbang: penuhi panggilan Allah, lalu bertebaranlah mencari karunia-Nya sambil memperbanyak dzikir. Bagi orang tua, pola ini adalah bahan ajar yang hidup. Anak melihat bahwa bekerja keras, jujur, dan ingat Allah bisa berjalan bersama.
Mulai dari satu langkah kecil pekan ini: ceritakan kisah Nabi Adam di hari Jumat, lalu ajak anak menghafal satu baris doa setelah Jumat. In syaa Allah, satu langkah kecil itu dampaknya seumur hidup.
